Loading...

#BROLIDAY: Endless Honshu Journey

#BROLIDAY: Endless Honshu Journey

IMG_1292

 

Salah satu dari bucket list saya adalah untuk dapat berkelana ke Jepang sebelum usia 25. Mengapa Jepang? Alasannya sebenarnya tidak jelas—di antara citranya yang absurd, otaku, gila kerja, atau apapun itu yang dilekatkan tentang Jepang, ada keinginan yang dalam untuk bisa menginjakkan kaki negara maju ini. Awal Mei kemarin semua impian itu bisa terlaksana: setelah berbulan-bulan menyusun rencana (dan menabung), saya dan dua rekan saya, Tyo dan Ghina akhirnya berkesempatan berangkat #Broliday ke negeri matahari ini dengan tujuan 5 kota di Pulau Honshu yang kami padatkan ke dalam 12 hari.

 

DSC_0020

 

Connecting flight dengan transit dari kota asal kami, Bandung, membuat waktu perjalanan menjadi lebih lama. Kami tiba di bandara internasional Kansai pukul 10 malam waktu setempat. Setelah menghabiskan sisa malam di bangku-bangku ruang tunggu bandara sembari menunggu kereta kembali beroperasi, kami memulai perjalanan ke kota tujuan pertama: Osaka. Kota Osaka dikenal dengan perilaku dan aksen orang-orangnya yang khas dan jenaka, serta makanan panggang seperti okonomiyaki dan takoyaki. Kami berkesempatan tinggal di apartemen milik lokal yang menghadap langsung ke pemandangan Osaka Castle!

 

IMG_0528

IMG_1404

 

Melipir sejenak dari hiruk pikuk kota, kami berkunjung ke Gunung Kōya, dua jam berkereta dari Osaka. Setelah menaiki cable car yang mendaki gunung curam, kami tiba di salah satu buddhist monastery yang paling terkenal di Jepang. Berhubung ada perayaan ulang tahunnya yang ke-1200; berbagai kegiatan tradisional di museum dan kuil banyak bisa ditemukan di daerah heritage ini.

Menapakkan kaki di daerah Gion, Kyoto, kami akan serasa dibawa kembali ke era Meiji yang ramai dengan samurai dan geisha. Suasana musim semi yang hangat membuat sangat nyaman untuk berjalan-jalan: entah di area pusat perbelanjaan kota Shijo, hutan bambu Arashiyama yang ikonik, hingga bantaran Sungai Kamo yang ramai dengan kegiatan mulai dari makan, piknik, dan bermain musik dari siang hingga malam. Di Kyoto pula kami mencoba budaya Jepang otentik lainnya: melepas lelah dengan berendam di onsen atau pemandian umum tradisional.

 

kyoto

kyoto2

 

Menaiki kereta cepat Thunderbird, kami bertiga melanjutkan perjalanan ke sebuah kota di prefektur Ishikawa, Kanazawa. Dengan ragam kekayaan budaya, tidak salah jika Kanazawa masuk ke dalam daftar Creative Cities dari UNESCO. Ada kastil yang dilengkapi dengan taman lansekap Kenroku-en, satu dari tiga taman lansekap terbaik di Jepang. Tapi, jangan anggap kota tradisional ini ketinggalan dalam hal modern: Kanazawa juga terkenal dengan adanya 21st Century Contemporary Art Museum dan stasiunnya yang futuristik sebagai destinasi wisata.

 

IMG_6230

IMG_1247

 

Hanya selang dua bulan sebelum kedatangan kami, rute kereta Shinkansen dari Kanazawa menuju Tokyo baru diresmikan. Karena itu, kami dengan semangat ingin mencoba shinkansen terbaru untuk menuju ibukota—jarak lebih dari 450 km ditempuh dengan nyaman hanya dengan 3 jam saja. Mendapati hotel kapsul tempat kami menginap berdiri di tengah-tengah distrik hiburan—red light district—Kabukichō yang terkenal, kami semakin terkejut karena fasilitas hotel ini terbilang nyaman; dan tentu saja menawarkan pengalaman baru menginap di hotel kapsul di Tokyo.

 

IMG_6255

IMG_5673

 

Keriuhan Tokyo dengan segala distraksinya diredam di kota tujuan kami selanjutnya, Hiroshima. Satu hal yang terlintas ketika mendengar nama kota ini: tragedi bom atom pada tahun 1945. Perjalanan ke area pusat ledakan, dengan peninggalan reruntuhan bangunan yang dibiarkan persis seperti saat bom dijatuhkan dan berbagai monumen untuk mengenang korban, membuat kami merinding; ditambah pula kunjungan ke Peace Memorial Museum yang menyimpan banyak rekam jejak Hiroshima saat dan setelah peristiwa bom atom. Namun di luar itu, dengan kota yang sudah terbangun modern, dilengkapi dengan kereta trem yang siap membawa anda berkeliling kota, Hiroshima menjadi tujuan wisata yang juga sangat menarik.

 

 

IMG_1324

 

Hal paling menyenangkan dari #Broliday di Jepang kali ini adalah mudahnya melakukan perjalanan dalam kota dengan sistem subway dan transportasi lainnya yang terkoneksi baik. Bahkan, berjalan kaki pun sangat menyenangkan dengan semua sistem dan fasilitas yang tersedia. Nilai plusnya, kita bisa menemui dan memperhatikan beragam orang dengan gaya berpakaian yang unik dan berbeda-beda di setiap sudut kota!

 


Sakti Nuzan, seorang editorial designer yang berbasis di Bandung. Lulusan Industrial & Product Design ini juga menekuni bidang penulisan mulai dari fiksi hingga jurnalisme. Perpaduan karya visual dan penulisnanya bisa Brothers nikmati dalam cerita dan kumpulan foto #Broliday nya di Negara Matahari Terbit ini. Mau kenal lebih lanjut dengan #BrodoGentlemen yang satu ini? Kunjungi halaman portfolionya di sini, lihat juga hasil jepretannya di akun Instagrammnya di @s.nuzan.

Aristyo Rahadian, Lulusan Industrial & Product Design ITB yang kini berkegiatan sebagai Chief di www.mast-idn.com. Bercita-cita memasyarakatkan topi, dan men-topi-kan masyarakat. Berperan sebagai tukang foto di trip ini –yang hampir sebagian besar isi memori kameranya malah mobil dan motor di Jepang. Langsung aja Bro intip Instagramnya di @tyorah

 

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

ten + fourteen =