Loading...

Gentlemen Journey: ilmu terbesar yang kita pelajari, tak melulu datang dari institusi

Gentlemen Journey: ilmu terbesar yang kita pelajari, tak melulu datang dari institusi


3,5 Tahun yang lalu saya bermimpi untuk menjalani kehidupan normal sebagai pegawai strata 1 dengan penghasilan yang berkecukupan, namun hari ini aku sadar mimpi itu takkan pernah terwujud.

Tahun 2014 adalah tahun terakhirku untuk menyelesaikan studi strata 1 di salah satu perguruan tinggi negri Kota Bandung, yang sempat terbengkalai karena kecanduan game online dan berjualan merchandise dari game online tersebut. Pola pikir yang terbentuk dalam diriku saat itu terdengar seperti “sudah nikmati saja apa yang ada dihadapanmu, selesaikan studimu dan masuk ke dalam siklus kehidupan orang dewasa pada umumnya”.

Karena terbiasa dengan pola pikir yang seperti itu, maka aku tidak berfikir dua kali ketika ayahku menyarankanku untuk menyelesaikan tugas akhirku di Nusa Penida, Bali. Ide tersebut terucap sehabis beliau kembali dari perjalanan proyek yang statusnya gagal pada waktu itu, juga karena beliau berfikir adanya kecocokan Nusa Penida dengan jurusan pariwisata yang kujalani sekarang, sebuah jurusan kuliah yang tidak sengaja terpilih, kembali lagi karena pola pikir alamiku yang terlalu sederhana seperti biasanya.

Jujur, aku adalah tipikal orang yang tidak bisa jauh dengan komputer dan internet. Seorang manusia yang selalu memilih untuk berdiam diri di safe zone daripada bepergian jauh, sebuah kontradiksi dengan jurusan kuliah yang tidak sengaja terpilih ini.


Singkat cerita, aku menjual sepeda gunung yang dua bulan lalu kubeli dari hasil berjualan merchandise dan hasil memenangkan tournament game online, tidak lain untuk bekal penelitian tugas akhirku tersebut.

Pada tahun 2014 Pulau Nusa Penida belum menjadi destinasi wisata yang dikenal banyak orang, sehingga hanya sedikit informasi yang tersedia. Menyebabkan rute perjalanan yang aku pilih lebih jauh dan lebih mahal daripada semestinya. Sesampainya disana, aku juga kebingungan karena memang selain biaya perjalanan yang pas – pasan dan hampir habis, juga karena persiapan akan segala informasi terkait akomodasi dan sebagainya yang kurang matang.

Kebingungan itu sirna ketika saya bertemu dengan dua orang pemuda lokal yang berbaik hati menawarkan saya untuk tinggal dirumah keluarga mereka, serta mengakomodir keperluan peneletian selama di Pulau Nusa Penida. Ada satu hal yang menarik di hari terakhir penelitian saya di Nusa Penida.

2014

Keluarga yang mengurusku selama masa penelitian menolak untuk menerima sejumlah uang yang niatnya kuberikan untuk mengganti keperluanku selama disana dan seraya berkata:

“Dik, kita sama – sama manusia dan hakikat manusia adalah saling menolong sesamanya. Adik ini sudah jauh – jauh datang kemari dan menolong masyarakat disini secara tidak langsung. Adik punya kemampuan dan kami sebagai masyarakat kecil memiliki peran ya menolong orang – orang seperti adik ini”.

Semua ketidaksengajaan dan pengalaman kecil ini mengagetkanku seraya mengubah sudut pandangku tentang hidup secara luas, membuatku ingin menjadi lebih berguna serta memiliki dampak yang lebih kepada orang – orang disekitarku,  of course in a positive manner and hopefully in a larger scale.

2017
2017

Sebuah bait pernyataan yang tulus dari keluarga ini membuat saya merasa memiliki hutang budi, untuk terus meningkatkan kapasitas diri agar dapat bermanfaat untuk orang lain. Perjalanan ini merupakan salah satu alasan yang kuat bagi saya untuk melanjutkan studi S2 saya di perencanaan kepariwisataan dan pengembangan kebijakan dengan harapan dapat mengembangkan daerah – daerah tertinggal di negeri ini, lewat pariwisata tentunya, sebuah bidang yang sebelumnya kujalani dengan setengah hati, yang akhirnya ilmunya tak berhenti kuselami hingga detik ini.

Mengutip sebuah kalimat dari Zhuge Liang “An enlightened ruler does not worry about people not knowing him; he worries about not knowing people”. Mengenal manusia dan kebudayaannya juga memperkaya perspektif tentang bagaimana masyarakat memandang hidup adalah sebuah candu baru bagiku,

karena pada akhirnya kita adalah guru dan murid dari universitas kehidupan.

– M. Harits Insan Kamil, Mahasiswa S2 PK ITB

Comments