Loading...

Gentlemen Journey: Sang Pemburu di Manchester Biru | Chapter 1

Gentlemen Journey: Sang Pemburu di Manchester Biru | Chapter 1

Seratus dua puluh tiga lamaran dan penolakan, sebanyak itulah yang aku butuhkan untuk akhirnya mendapatkan kesempatan magang di BBC – kantor berita tertua di tanah Inggris.

Menjadi anak magang di BBC London menyiapkanku untuk menghadapi tantangan yang lebih besar di kemudian hari – yaitu sebagai International Content Producer bagi klub Premier League Manchester City, kemudian periode singkatku sebagai Direktur Media dan Hubungan Internasional PSSI.

Sepakbola adalah hasratku. Adalah sebuah kehormatan menjadi satu-satunya orang Indonesia yang bekerja di klub Premier League dalam periode dua musim yakni di 2013/14 dan 2014/15. Sehari-hari aku berkantor di City Football Academy yang terletak di jantung kota Manchester.

Setiap hari Jum’at pukul 1 siang, aku akan melihat Manuel Pellegrini memarkir Range Rover hitamnya di pintu masuk Headquarter CFA, naik ke lantai satu – ke ruang konferensi pers. “Aku akan duduk di pojok atas kursi ruangan itu”, mulai mengutip kata-kata dari si ‘charming man’.

Pada hari Sabtu atau Minggu – aku akan naik Magic Bus no.42 dari flatku – turun di Picadelly Gardens, lalu naik tram hingga ke Etihad Campus – dimana Etihad Stadium sudah tersenyum menanti, bersama ribuan orang dengan aksesoris berwarna biru langit.

Aku akan duduk di press box-ku yang terletak di baris F Colin Bell stand, menyaksikan hal-hal ‘gila’ dan setiap hari bersyukur karenanya.

Sudah kulihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Jose Mourinho tertunduk saat kalah 3- 0 bersama Chelsea di pembukaan musim 2015. Aku juga melihat Aguero mencetak lima gol dalam tempo waktu 20 menit ke gawang Newcastle, aku juga melihat langsung bagaimana seorang legenda Chelsea – yaitu Frank Lampard, memainkan laga terakhirnya di Premier League berbaju City – dengan menggendong anak-anaknya ia mengucap salam perpisahan, lalu menangis di tunnel pemain menuju ruang ganti.

Tentunya satu laga yang tak pernah kulupakan adalah ketika Juventus – tim yang aku dukung dari kecil, datang ke Etihad. Pada hari itu aku mendapatkan sebuah pelukan dari Gianluigi Buffon – hari yang tidak akan pernah kulupakan seumur hidupku.

Seluruh pengalaman itu aku rangkum ke dalam sebuah novel yang berjudul ‘Pemburu di Manchester Biru’, kembali aku bersyukur karena buku ini akan diangkat ke layar lebar dan mulai diproduksi oleh Oreima Films pada akhir tahun 2017 ini.

Brodo, merk yang selalu terikat dalam hatiku – menemani perjalananku kembali ke Manchester pada bulan September 2017 lalu. Aku kembali ke kursiku di Etihad, rasanya sama seperti kemarin, seakan aku tidak pernah pergi.

Hari kepulanganku ke Etihad disambut dengan gol dari Aguero, Leroy Sane dan Gabriel Jesus. Hari itu kami membantai Liverpool 5-0, semua terasa spesial karena untuk pertama kalinya aku bertemu Pep Guardiola.

Seperti biasa selesai pertandingan aku harus turun ke basement – ke area mixed zone, menanti para pemain yang baru selesai mandi dan bersiap-siap pulang untuk diwawancarai. Pada hari itu aku berbicara kepada Claudio Bravo, Gabriel Jesus di dekat lift, Leroy Sane dan Ilkay Gundogan sebelum mereka naik ke dalam bisnya, dan menutup hari dengan menyelesaikan pekerjaanku di CFA.

Di penghujung hari itu aku teringat sebuah kenangan di daerah Camden – ketika aku masih menjadi pelayan di kota London sambil berkuliah. Back manager yang bertugas pada hari itu menyuruhku minum air dari ember bekas pel – karena aku tak pantas minum dari air keran, begitu katanya.

Rasanya seperti kemarin, sama-sama di basement, sama-sama penuh dengan manusia. Hanya saja kali ini aku bebas minum soda, kopi atau teh di ruang wartawan, dikelilingi bintang-bintang sepakbola dunia.

Karena aku menghargai proses, karena jika ada satu hal yang tidak bisa diambil dariku, itu adalah semangat juangku.

karena aku adalah Pemburu di Manchester Biru.

 

Hanif Thamrin,

Brodo Gentleman

Comments