Loading...

Gentlemen Journey: Sang Pemburu di Manchester Biru | Chapter 2: Stamford Bridge London

Gentlemen Journey: Sang Pemburu di Manchester Biru | Chapter 2: Stamford Bridge London

London, kota impian saya.

 

Setelah tinggal sebentar di tahun 2011 di kota ini, saya berhasil kembali di tahun 2014. Stamford Bridge dan Emirates Stadium adalah dua tempat pertama yang saya kunjungi.

Kandang Chelsea terletak di sebelah barat kota London – di zona 2, tidak jauh dari pusat kota hanya saja Tube yang melewatinya (district line) aksesnya tidak sebanyak central, picadelly atau northern line. Untuk mahasiswa berkantong pas-pasan seperti saya akses utama tentu naik Tube (underground) – dimana stasiun terdekat adalah Fulham Broadway.

Saat mencapai pintu masuk – di sebelah kiri ada sebuah jam elektronik yang melakukan hitung mundur menuju laga Chelsea berikutnya.

 

Chelsea adalah klub favorti flatmate saya Pringga, saat kami masih bersekolah dulu di London. Saat kami main FIFA di playstation, pasti hanya memilih dua tim untuk dimainkan: Juventus vs Chelsea.

Saat itu hati rasanya senang dan sedih saat menginjakkan kaki di stadion ini. Senang karena bisa melihatnya dari luar, sedih karena tidak punya uang untuk merasakan nonton langsung di dalam Stamford Bridge. Rata-rata harga tiket Chelsea diatas £50 untuk laga biasa, dan jika itu melawan tim big four bisa meroket diatas £100. Jangankan nonton – saat itu membayar £20 untuk tur stadion saja saya tidak bisa.

 

Siapa sangka hanya berselang setahun hal ini bisa berubah?

 

16 Agustus 2015 Chelsea menjadi lawan pembuka City di opening day Premier League. Hari itu saya berpapasan dengan Jose Mourinho di Tunnel menuju ruang konferensi pers sesudah pertandingan. Oh ya, kami (Manchester City) mencukur Chelsea 3-0 di Etihad saat itu.

Tak ada sedikitpun kesan angkuh yang Jose perlihatkan seperti image yang terbentuk di media-media. Dalam pikiran saya ia hanyalah seorang yang tidak pandai berbasa-basi dan selalu mengatakan apa yang ada di pikirannya.

 

Hari itu satu persatu seluruh pemain Chelsea melewati saya di mixed zone saat mereka selesai mandi dan berjalan menuju bis mereka.

Selang beberapa bulan saya kembali ke London untuk menyelesaikan final project saya sebagai persyaratan desertasi – sebuah film dokumenter. Karena sudah lebih baik secara finansial, saya menyempatkan diri masuk ke Stamford Bridge. Satu kata yang terlintas di benak saya: Stadion ini sudah cukup tua – tidak segemerlap Etihad, Old Trafford atau Emirates. Karena itulah Chelsea merencanakan renovasi dan penambahan kapasitas dengan biaya hingga 2 miliar poundsterling.

Para pendukung Chelsea jangan berkecil hati, kenapa? Satu hal yang saya tahu, bahwa tim-tim London akan selalu punya keunggulan ketimbang tim-tim asal Midlands dalam mendatangkan pemain bintang: kesempatan untuk menawarkan London lifestyle.

 

Jika salah satu klub Manchester dan tim-tim London menawarkan uang yang sama kepada seorang pemain, sulit rasanya menolak tim London. Karena gaya hidup yang ditawarkan di kota ini.

Yang pasti Chelsea adalah klub yang prestisius, terlebih jika proyek renovasi Stamford Bridge jadi dimulai tahun depan.

Di mata saya, Chelsea masih merupakan tim terbaik yang ada di London.

 

Hanif Thamrin,

Brodo Gentleman


Comments