Herspective #2: Implementasi Semangat Kartini

Namaku Febyuka Azalia Hanjani seorang learning team di sebuah perusahaan FMCG.

Di perayaan Hari Kartini ini, izinkan aku untuk berbagi secarik pengalaman yang menurutku bisa sangat berarti untuk sebagian wanita Indonesia dengan cerita yang serupa.

.

.

Aku terlahir dalam sebuah keluarga yang mapan dan sempurna, baik dalam segi finansial maupun dari segi emosional; berisikan seorang Ayah yang bertanggung jawab, Ibu yang super penyayang, satu orang adik laki – laki yang bisa jadi teladan, dan seorang adik perempuan yang menggemaskan, menempatkanku dalam kondisi kehidupan yang sangat menyenangkan.

Masalah terberat yang harus kuhadapi saat itu hanyalah bagaimana cara mendapatkan nilai terbaik di sekolah, atau sekedar bagaimana mengorganisir lemari pakaianku agar tidak menyulitkan saat mencari pakaian tuk dikenakan.

Ayahku yang saat itu sedang ditugaskan di Pontianak, mengharuskanku untuk merantau jauh dari ayah dan keluargaku. Menjalani kehidupan di Depok untuk menyelesaikan pendidikanku di Psikologi UI. Salah satu hal berat yang harus kujalani, setidaknya pada saat itu.

.

Namun momen terberat dalam hidupku hadir tanpa pernah terduga, bahkan hingga sekarang aku belum memiliki alasan untuk percaya.

.

Ayahku adalah orang yang ketat dalam menjalani gaya hidup sehat, dia bukanlah perokok dan berolah raga secara giat. Namun Juni 2011 jadi waktu dimana Beliau harus wafat karena serangan jantung; momen yang membuatku sangat termenung. Sedih dan amarah bercampur aduk jadi satu, tak bisa kuterima ada kejadian seperti ini hadir dalam hidupku.

Pertama kalinya kudengar Ayahku sakit adalah ketika Beliau harus meninggalkan dunia ini, dan pertama kalinya ku harus menerima pengalaman pahit adalah saat dunia tidak memberikan pilihan lain selain untuk menjalani kenyataan ini.

.

“Kenyataan memang pahit” jadi frase yang terus menggema dalam pikiranku selama bertahun – tahun setelahnya. Keluargaku yang sempurna, kini kehilangan matahari yang telah lama selalu menyinarinya.

.

Kami berempat yang cukup terpukul dengan hadirnya kenyataan tersebut perlahan mencoba menyembuhkan diri dan berusaha menyusun kembali segala fungsi yang sebelumnya ada dalam keluarga ini, hari demi hari.

Adikku, satu – satunya lelaki yang tersisa dalam keluarga ini sering kali jadi kepercayaan Ibuku dalam mengambil keputusan besar, sekaligus jadi sandaran dan pelindung bagiku dan adik kecilku yang sebelumnya sangat  patuh dan butuh terhadap arahan dari Ayah sebagai panutan.

dalam kondisi berduka, kami sekeluarga memutuskan untuk memulai hidup kami kembali di Batam. Tempat dimana Ayah dan Ibu bertemu, dan tempat dimana kami memiliki satu – satunya asset properti untuk meneruskan hidup. Selepas kepergian Ayah ini, kestabilan finansial jadi salah satu pertanyaan besar bagi kami. Dan “memulai hidup dari nol”, adalah pilihan jalan satu – satunya yg bisa kami tapaki tanpa alternatif lain.

5 tahun berlalu, keluargaku mencoba bertahan dan bangkit secara perlahan – lahan. Berbagai jenis cobaan dari segi finansial, emosional, maupun moral mampu kami hadapi dengan sekuat tenaga dan hati.

.

Harusnya “Petir tak pernah menyambar tempat yang sama dua kali”, benar kan?

.

2016, ku menyaksikan adik pertamaku meneriakkan kesakitannya dengan kencang sambil terbaring di ranjang rumah sakit, beberapa menit kemudian suster datang membawa morfin yang tak lama kemudian mengantarkan adikku tertidur pulas; menjadi rutinitas harianku semenjak dua bulan hadirnya kanker prostat stadium akhir di dalam tubuh adik lelakiku. Hingga akhirnya di tahun yang sama dalam waktu yang dekat, dia harus berpamitan kepada keluarga dan menyusul Ayahanda di surga sana.

Kali ini aku menghadapi kenyataan pahit ini dengan wajah yang tenang, hatiku begitu hancur hingga tak sempat menentukan ekspresi seperti apa yang perlu kusertakan. Dilema antara harus lega karena adikku bisa berhenti merasakan kesakitan yan ia rasakan setiap hari, atau marah karena Tuhan tak berhenti menghancurkan satu persatu tiang yang menopang keluarga ini. Dua kenyataan yang tak pernah ku ingin rasakan.

.

Kalau memang cobaan datang untuk menguatkan, tak terbayang seberapa lemahnya aku saat dilahirkan.

.

Kuhela nafas sedalam – dalamnya lalu kuhempaskan sekuatnya keudara, disertai doa dan harapan hatiku mulai berbicara: “mungkin kalau ku bisa menjadi kuat sedini mungkin, tuhan kan berhenti menguji aku dan keluargaku.”

.

Aku, Adik perempuanku, dan Ibuku adalah tiga perempuan yang tersisa dalam keluarga ini. Tiga permpuan yang berkali – kali belajar tentang pahitnya kehidupan. Tapi kami bertiga sadar bahwa selalu ada hikmah dibalik cobaan, salah satunya adalah kepribadian kami bertiga yang jauh lebih dikuatkan. Khususnya bagiku yang kini bisa melihat sisi positif dibalik setiap momen yang hadir dalam hidup ini, walaupun tidak mudah.

Aku yang sebelumnya selalu tenang karena punya sandaran hidup dalam keluarga ini, akhirnya memompa diri tuk jauh jauh jauh jadi lebih mandiri. Bekerja sekeras mungkin menjadi satu – satunya pilihan yang tersisa dalam hidupku ini, dengan harapan keluargaku bisa terhindar dari kenyataan pahit lain yang mungkin terjadi.

Hingga Akhirnya ku memberanikan diri untuk mengajak Ibu dan Adikku untuk pindah ke Tangerang dan hidup bersamaku. Dimana aku bertanggung jawab atas kelangsungan hidup Ibuku dan biaya pendidikan Adik perempuanku, dua hal paling berarti yang tersisa dalam hidupku ini.

.

Aku memang tak sehebat R.A. Kartini yang mampu memperjuangkan emansipasi wanita se-Indonesia di masanya, namun menjadi lebih berarti dalam hidup dua sosok perempuan yang kucinta, bagiku sudah cukup berharga;.

Setidaknya mereka setuju bahwa aku adalah sosok R.A. Kartini versi mereka, dan yang terpenting adalah aku tidak akan pernah berhenti untuk berusaha jadi lebih berarti lagi bagi mereka.

.

Mungkin masih banyak lagi sosok Kartini – Kartini diluar sana, yang tak pernah berhenti berusaha bagi diri sendiri ataupun bagi orang – orang yang berarti, yang mampu mengimplementasikan semangat R.A. Kartini dengan jauh lebih hebat lagi, yang jelas aku tidak sendiri.

Dan bagi kalian perempuan Indonesia yang perlu berdamai dengan takdir, atau kehabisan kapasitas untuk berhadapan dengan realitas; sadarlah bahwa kalian tidak sendiri, kunjungi http://ceritaperempuan.id/ untuk sekedar mencari inspirasi ataupun berkonsultasi.

Sekian, semoga semangat Hari Kartini bisa terus kita tanamkan dalam kehidupan sehari – hari.

Summary

Comments