Konsumsi Produk Lokal; Kontribusi Kecil untuk Bumi

Gerakan anti menggunakan sedotan plastik, hingga ajakan untuk membawa tas belanja sendiri di supermarket, antusias masyarakat akan trend gaya hidup ramah lingkungan ini patut diapresiasi dan merupakan langkah besar untuk peralihan ke gaya hidup yang lebih ramah lingkungan.

Tapi, apakah isu lingkungan cuma sekitar meminimalisir penggunaan plastik doang?

Kalau kerusakan lingkungan bisa digambarkan sebagai fenomena gunung es, sampah plastik hanyalah salah satu masalah yang terlihat di permukaan. Selain sampah plastik, ada banyak faktor-faktor lain penyebab kerusakan alam seperti penebangan hutan secara liar, pembuangan limbah pabrik, dan hal lain yang terlalu banyak kalau dijabarkan satu – persatu.

Duh rasanya banyak banget PR kita untuk membuat apa yang kita upayakan demi menjaga bumi ini menjadi lebih signifikan, yang tak jarang bikin niat kita terlanjur urung sebelum beraksi. Tapi, tau nggak sih kalau membeli produk lokal adalah salah satu cara untuk memberikan kontribusi kecil dalam memperlambat dan menanggulangi kerusakan alam?


Berdasarkan data yang dipublikasikan oleh IPPC (Intergovernmental Panel on Climate Change atau “Panel Antarpemerintah Tentang Perubahan Iklim”) per tahun 2016; di Amerika Serikat, untuk sektor ekonomi sendiri, industri menyumbang 22% emisi gas buang dalam produksi barang dan bahan baku untuk kehidupan sehari-hari dan 28% untuk transportasi.


Intinya, sebuah produk membutuhkan energi dan melepaskan emisi gas buang dalam proses perjalanannya dari produsen sampai ke tangan konsumen. Secara sederhana, semakin dekat jarak antara produsen dan konsumen, maka semakin sedikit energi yang dibutuhkan dan emisi gas buang yang dihasilkan. Tentu ada beberapa faktor lain seperti teknologi, mesin produksi, dan infrastruktur memadai yang menjadi faktor pendukung.

Side by side comparison Imported Goods vs Local Goods


Apakah kita bisa percaya bahwa pasar lokal bisa menawarkan produk yang berkualitas baik sehingga mampu bersaing dengan pasar impor? Kalo ini sih harusnya kita percaya banget; musuh utama produk lokal sebenarnya masih seputar pola pikir konvensional yang dimiliki pasar tentang standar kualitas manufaktur yang dimiliki merek global pasti lebih unggul dibanding produk lokal, padahal adidas aja pabriknya di tangerang.


Dengan semakin banyaknya permintaan untuk produk lokal, secara langsung atau tidak, akan mendorong inovasi dalam negeri untuk menghadapi isu lingkungan (penghematan energi), ekonomi (pendapatan dalam negeri), bahkan sosial (membuka kesempatan lapangan pekerjaan baru, terutama komunitas lokal).

Oleh karena itu, sebenarnya ada banyak angle yang bisa kita upayakan untuk tetap menjaga bumi kita tetap lestari, salah satunya dengan membeli produk lokal – yang memang kualitas dan manajemen produksinya baik. Untuk para Brother, terima kasih sudah mau menjadi bagian dari kontribusi yang kecil ini, namun kalau sering dan banyak yang melakukannya akan menjadi sangat berarti bagi lingkungan dan negara ini. Dan mudah – mudahan semuanya tak berhenti cuma sampai disini.

nih sneakpeak dari next move nya Brodo buat lingkungan di Indonesia

Brodo; A Better Footwear Company

Credits: Lita Ludji | Editor & Illustrations: Fikri Irvandi


Comments