May Day, What’s New?

Selamat hari buruh sedunia!

.

Foto oleh: Iyas Lawrence

Budaya May Day di Indonesia tak lepas dari pawai dan unjuk rasa yang dilakukan secara damai oleh buruh se-Indonesia. Warna – warni suara masukan dan tuntutan untuk menarik perhatian pemerintah pun berterbaran bersamaan dengan sorak sorai semangat keadilan dan kesejahteraan.

Sebuah pemandangan yang cukup mewakili berjalannya sistem demokrasi di Indonesia, tak kadang membuat “May Day” jadi kata yang kita nati – natikan tiap tahunnya tuk terulang.

.

Foto oleh: Iyas Lawrence

.

Tapi terkadang kita lupa apa arti sebenarnya dibalik frase “hari buruh” tersebut; siapa saja yang dimaksud dengan buruh? Apakah kamu merasa termasuk sebagai buruh? Dan sebenarnya apa yang masih kita (buruh) perjuangkan hingga saat ini tiap tahunnya?

.

Foto oleh: Iyas Lawrence

.

Ada berbagai istilah berbeda di Indonesia untuk menyebut kerja upahan, alias kerja untuk orang lain dan mendapat gaji rutin tiap bulan. Mulai dari yang resmi semacam karyawan dan pekerja, sampai bahasa slang macam ‘budak korporat’, membuat kata buruh jadi terkesan eksklusif hanya untuk kelompok tertentu: mereka yang tidak terampil, bekerja kasar atau di pabrik, serta masuk kategori berpendapatan minimum.

Pertanyaannya, benarkah demikian?

.

Foto oleh: Iyas Lawrence

.

Apakah kita yang bekerja kantoran atau menyandang profesi tertentu, tidak ridho disebut buruh? Jika mengacu pada sejarah, rasa-rasanya pandangan merasa beda dari buruh wajar. Dalam artian, wajar karena dibentuk oleh politik bahasa. Rezim Orde Baru secara sengaja ‘meletakkan’ buruh sebagai pekerja kelas bawah dan ditandai sebagai pekerja kasar.

“Politik bahasa” ini tampaknya mengakar begitu kuat hingga sekarang. Tak heran, banyak dari para ‘pekerja’ yang enggan disebut sebagai buruh. Panggilan ‘karyawan’ lebih disukai dan akrab untuk menggambarkan mereka yang bekerja di gedung pencakar langit, jam kerja pukul 9-17, menenteng laptop, tak lupa dengan kemeja rapi dan jas perlente.

.

.

Tapi pada dasarnya kata buruh seharusnya mampu mewakili semangat kita, siapapun itu, untuk memperjuangkan perbaikan nasib dan pemenuhan hak-hak kita sebagai pekerja. Khususnya kita sebagai pekerja terampil digital yang punya kekuatan untuk menyuarakan dan mengilustrasikan opini yang tepat mengenai “hari buruh” ini. Toh, kan kita gak akan mau kan kalo peraturan yang dibuat pemerintah hanya menguntungkan satu belah pihak (atau jenis pekerja) kalau saja kata buruh ditentukan berdasarkan pada pranalar orde baru tersebut.


Namun apa yang berbeda dari May Day di Indonesia beberapa tahun belakangan ini?

.

Foto oleh: Iyas Lawrence

.

bertahun – tahun berlangsung, rupanya ketegangan dari rima hari buruh yang keras perlahan hilang, dan mengantarkan kita kepada era dimana perayaan secara besar – besaran dari berbagai kalangan menjadi hal yang bisa dikatakan lumrah untuk memperingati hari ini.

Tak melulu tentang hak, undang – undang serta peraturan, beberapa tahun kebelakang kiranya jadi era baru dimana hari buruh jauh lebih dimaknai dengan bagaimana cara para pekerja bisa memenuhi kebutuhannya dengan lebih mudah dan murah.

Foto oleh: Iyas Lawrence

Skema yang mungkin sebelumnya tak kita sadari ini ternyata bisa jadi model positif yang baru bagi perayaan hari buruh tersebut; bertubi – tubi diskon dari berbagai jenis kehidupan yang marak diselenggarakan untuk merayakan momen ini tak lekang bisa menjadi penunjang pemenuhan hak – hak yang kita tuntutkan tersebut.

Opini pribadi seperti ini mungkin terlalu dini untuk kita tentukan benar atau salahnya, mengingat belum ada penelitian secara numerik, spesifik dan menyeluruh yang bisa kita jadikan acuan. Tapi gak ada salahnya kita bersikap optimis bahwa momentum yang terjadi secara alami ini, suatu hari bisa jadi komplementer dalam selebrasi kita di hari ini.

Kalo menurut Brothers sendiri, apa sih yang baru dari perayaan hari buruh sedunia di tahun ini?

.

.

.

https://bro.do/collection/its-mayday-sale

Comments