Loading...

Sebuah Rindu, untuk Bunda di Surga | Selamat Hari Ibu 22 Des 2017

Sebuah Rindu, untuk Bunda di Surga | Selamat Hari Ibu 22 Des 2017

Sudahkah kau peluk Ibumu hari ini? Atau sekedar menyampaikan salam hangat di hari Ibu yang masih bisa kau peringati saat ini.

Karena sesungguhnya aku iri.


Nama saya Ichsan Agung, 11 Januari 1994 jadi awal dimana aku menyaksikan perjuangan seorang makhluk tuhan yang paling suci dalam melahirkanku ke dunia (walau tanpa sadar, tapi aku yakin itu bukanlah hal yang mudah), beliau yang satu tahun kemudian mampu kupanggil Ibu.

Bagiku yang masih muda dan belum mampu menghargai arti kehidupan disaat itu, Ibuku adalah seorang sosok yang keras kepala. dia selalu membuatku kesal dengan omelannya akan hal – hal yang menurutku tidaklah penting. seperti ketika aku bangun siang, tidur terlalu larut, lupa membereskan kamar, melupakan janji yang dIbuat kepada teman, mengulur ngulur waktu ketika memiliki kewajiban seperti tugas sekolah maupun tugas rumah, Ibuku pasti hadir dengan omelannya yang kental dengan kedisiplinan dengan sangat keras – bagiku saat itu, dia adalah sosok yang menyebalkan.

Aku dan Ibuku adalah 2 orang yang selalu berdebat akan banyak hal, kami sama sama keras kepala. Bagiku, sah – sah saja jika aku memiliki sifat yang keras kepala, karena kurasa aku mewarisi sifat “keras kepala” miliknya. Namun Ibuku selalu membantah dan selalu mengatakan bahwa sifat itu turun dari ayahku – yang notabene pendiam.

Satu pengalaman yang kuingat, ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar dan menyukai beberapa hal mengenai Jepang, Akupun berceloteh pada Ibuku “mah aku pengen ke Jepang terus nyari istri cewe sana”. Normalnya Ibu kebanyakan akan tidak memperdulikan omongan tidak penting dari seorang bocah sekolah dasar, tapi tidak bagi Ibuku. Dia mempermasalahkan apa yang kuucapkan “kamu mau nikah sama orang jepang? tau ga jepang punya budaya bunuh diri? kamu mau istri kamu entar stress sama kamu terus bunuh diri di depan kamu?” saat itu aku merenung lama. Bukan karena takut akan budaya tersebut, tapi membayangkan betapa susahnya nanti meminta restu darinya untuk menikahi wanita Jepang.

Ya, Ibuku bisa membuat hal tersebut se-serius itu. setidaknya bagiku saat itu.

Hubunganku dan Ibuku tidak serta merta hanya debat kusir yang tidak penting maupun omelan darinya karena hal – hal indispliner yang kerap ku lakukan. Ibuku juga memiliki sosok yang humoris. Mungkin receh lebih tepatnya. Ibuku kerap mentertawakan lawakan yang sangat tidak lucu dari acara tv yang bagiku sangat tidak berkualitas. Aku kerap menghina selera tontonan Ibuku karena mayoritas acara yang dia tonton hanyalah sinetron, dan saat menonton sinetron dia kerap bergumam ketika melihat pemeran antagonis sedang mengalami kesialan seperti “rasakan hahahaha!” “nah mampus kau!”. Aku biasanya hanya berlalu dan beranjak ke kamarku karena tak ingin keceplosan menghina dan menjadi anak durhaka.

Ketika sekolah menengah atas,aku meneruskan sekolah di luar kota, sehingga aku dan Ibuku mulai jarang bertemu karena aku hanya bisa pulang 1 minggu sekali. Namun meski terpisah jarak, Ibuku tetap menjadi dirinya – dia tidak henti menelponku dan kadang marah marah jika aku tidak mengangkat.

Pernah suatu saat ketika ku meninggalkan handphone-ku untuk pergi ke toilet, saat kulihat notifikasi sudah ada sekitar 20 missed call dari Ibuku. Baru beberapa detik aku terheran dengan jumlah missed call yang mencengangkan tersebut, hp berdering kembali dengan Ibuku yang mengomel tidak henti karena telpon yang tidak terangkat.


Hingga saat aku beranjak kelas 3 SMA pada tahun 2012, Ibuku mengalami stroke. Dia mengalami komplikasi diabetes, dan darah tinggi karena pola makan yang tidak teratur. Dia sulit berkomunikasi dan tidak bisa bangun dari tidurnya. Sifatnya yang dulu ceria dan berkobar – kobar saat itu nampak pudar.

Meski dia menderita stroke, keinginan untuk berkomunikasi selalu dia perlihatkan melalui matanya dan cara dia berusaha menjelaskan apa yang dia ucapkan. Dia masih kerap bercanda pada orang orang sekitar. Seakan akan mencoba berkata “gapapa kok, aku baik baik aja gausah serius gitu”.

Hari-hari yang kulalui setelahnya tidaklah seperti biasanya. Dering telpon yang kerap mencariku tak pernah kudengar lagi. Hanya sesekali ayahku yang menelpon dan menyuruhku pulang atas permintaan Ibuku.

Beranjak naik  kelas dan memasuki perkuliahan, aku mulai disibukan dengan kegiatan – kegiatan yang harus kulalui. Dulu yang biasa pulang seminggu sekali, berubah menjadi sebulan sekali karena aku fokus dengan dunia perkuliahanku dan jarang pulang ke rumah, tentunya agar pendidikan di jenjang kuliah mampu kuselesaikan dengan cepat.

Kerap kutanyakan kabarnya melalui telpon dan berbincang dengannya – Tidak seperti biasanya dimana dulu Ibuku selalu menjadi orang yang bercerita banyak ketika menelponku, kini dia hanya mampu berbicara beberapa kata yang samar karena kesulitan, dan hanya aku yang banyak berbicara tentang perkuliahanku serta beberapa nasehat yang kulemparkan padanya mengenai pola makan yang harus dijaga agar lekas sembuh.


Beberapa bulan menjelang tahun baru 2016, Ibuku mengalami penurunan kesehatan. Diabetes yang dia derita mulai menggerorogoti kaki dan menimbulkan flek yang menandakan pembusukan. Flek tersebut harus segera diatasi dengan amputasi. Akhirnya demi kebaikan, Ibuku merelakan kakinya (dari ujung kaki hingga mata kaki) untuk di amputasi.

keceriaan Ibuku kian serta meredup. Stroke memukulnya dengan keras dan dia masih mampu bertahan, namun amputasi kaki kali ini nampaknya menjatuhkan mentalnya jauh lebih buruk lagi. dia kerap merenung dan ingin menyendiri. Dulu saat masih sehat aku sangat mudah membuatnya tertawa, berbeda dengan saat itu yang sangatlah sulit untuk sedikit membuatnya tersenyum. Setiap usahaku untuk membuatnya tertawa hanya diakhiri oleh ucapan dia yang samar menjelaskan “matiin lampu kamar, solat sana, tutup pintunya”, dia selalu menyuruh siapapun untuk membiarkan dirinya sendirian. Tampak semangat hidupnya mulai redup.

Diperburuk dengan fakta bahwa ternyata flek dikakinya masih merambat.


Ibuku akhirnya dibawa lagi ke rumah sakit untuk melakukan amputasi, yang kedua kalinya, di kaki yang sama – terpaksa harus diteruskan hingga betis. Setelah operasi amputasi dilakukan, Ibuku sempat berucap samar “maaf mamah cacat”, aku sempat tertegun dan tak mampu menjawab kalimat tersebut, berharap tak pernah mendengarnya keluar dari sosok yang sebenarnya kusayangi, Ibuku.

Aku tidak pernah mengungkapkan rasa sayangku kepada Ibuku sebelumnya. Dan saat itu jadi pertama kalinya aku mengucapkan rasa sayangku yang besar padanya. Dan pada saat itu juga untuk pertama kalinya aku menangis karena seseorang.

setelah 4 tahun Ibuku menderita stroke dan tidak bisa beranjak dari tempat tidurnya, akhirnya beliau menghembuskan nafas terakhir pada 02 januari 2016. Aku berada disampingnya saat itu. melihat dia kesulitan bernafas – dan pergi.


Dan kini aku menyesali banyak hal yang telah berlalu, waktu yang telah banyak terlewat karena kesibukanku. Aku tidak pernah tau Ibuku akan secepat itu meninggalkanku. Aku tidak pernah menyangka bahwa aku tidak bisa memamerkan anakku suatu saat padanya. Aku membayangkan, mungkin dia akan membocorkan seluruh keburukanku pada cucunya, menjelek – jelekanku hingga anakku akan ikut menghinaku tanpa henti. Atau berkubu dengan istriku untuk menyudutkanku, serta membully-ku dan berkata pada istriku “kok kamu mau sama dia?”.

Aku tidak pernah mengerti arti rindu sebelumnya, bagiku rindu hanyalan kisah dramatis dari sinetron – sinetron favorit Ibuku. Aku tidak pernah percaya jika aku akan menangis ketika ditinggalkan seseorang, karena bagiku itu hanya ada dari kisah buatan yang didramatisir seperti sinetron – sinetron favorit Ibuku. Dan aku tidak pernah menyangka bahwa aku bisa merasakan rindu namun ternyata rasa rinduku padanya bisa terasa se-nyata ini, rinduku terhadap seseorang yang telah mengajarkanku kedisiplinan, kepedulian, dan kasih sayang yang nampaknya tak kumengerti sebelumnya.



Terima kasih atas harapan, doa, cinta dan kasih sayang yang selalu kau berikan tanpa pamrih. Aku bukan anak soleh dengan pribadi yang baik. Aku selalu mengeluh dengan ego yang beragam dan tak lekang bersyukur. Maaf jika aku sulit untuk mengerti kasih sayang yang selalu kau berikan. Kau yang selalu mengajariku sifat pantang menyerah dan kebaikan tanpa batas. Hingga disaat engkau berjuang dengan penyakit yang membuatmu mudah menjalani kehidupan, kau masih saja sedia tersenyum dan peduli pada siapapun, terutama aku.

Aku tak pernah mengerti bagaimana caranya menangis sebelumnya. Terima kasih telah mengajarkan betapa berharganya sebuah kesempatan dan beratnya sebuah keikhlasan. Aku menyayangimu mah, maaf atas air mata yang kerap kuciptakan dimatamu. Itu akan menjadi alasan tangis dan doa yang akan selalu mengisi hariku kedepannya.

Selamat jalan, semoga bahagia menyertaimu disurga. sedikitpun tak akan berkurang kebanggaanku sebagai anak yang telah kau besarkan dan lahirkan.

Untuk Ibuku yang kurindu, Siti Umi Janatin (4 April 1968 – 2 Januari 2016)

Ichsan Agung

0 Shares

Comments